Tampilkan postingan dengan label Save The Earth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Save The Earth. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Maret 2010

Sungai Kita .... ?


wah,lama juga nih gag posting,hemm,gara-gara kemaren sibuk maen texas holdem poker di FB,hehe
jadi bingung mo posting tentang apa....ya gag jauh-jauh dulu lah tentang lingkungan,saya masih berharap,kita para manusia penghuni bumi ini sadar akan tiap dampak yang terjadi kalau kita tidak mau peduli tentang lingkungan(terutama Indonesia nih).. :)
dan kemarin waktu iseng-iseng buka http://www.kaskus.us/ ...wow,ternyata sungai ciliwung kita saudara-saudara menempati sungai paling kotor pertama didunia(kalo gag salah sih gitu),hemm ayolah kawan-kawan,kita harus sadar pentingnya kita menjaga dan melestarikan lingkungan kita...
Setidaknya mulai dari diri sendiri lah...oke


Selasa, 05 Januari 2010

CCS Jinakkan Efek Global Warming


Pertumbuhan karbon dioksida merupakan kontributor terbesar dalam pemanasan global maka yang patut kita ketahui yaitu pertumbuhan emisi CO2 diatmosfer telah mencapai angka 28 gt(gross ton)/tahun. Sementara konsentrasinya telah mancapai 380ppm
(part per million). Mitigasi untuk mengurangi karbon dioksida di atmosfer membuka paradigma baru tentang tekhnologi CCS.

CCS (carbon capture storage) merupakan tekhnologi untuk memisahkan karbon dioksida yang dilepaskan oleh stasiun pembangkit energi (power station) atau proses industri,, selanjutnya ditangkap dan ditransportasikan serta disimpan pada tempat tertentu. Tujuan dari CCS secara jelas adalah untuk mengurangi emisi karbon dioksida yang berdampak apda pemanasan glogal (global warming).

Pada tahap penangkapan ini dilakukan pemisahan karbon dioksida dengan beberapa metode antara lain post-combustion. metode ini biasa dilakukan pada pembangkit konvensional dengan melakukan penangkapan karbon dioksida setelah proses pembakaran. Asap yang keluar dari cerobong akan dipisahkan menggunakan scrubing sehingga dihasilkan gas karbon dioksida murni.

Metode yang lain yaitu pre-combustion metode ini dilakukan dengan cara menangkap karbon dioksida sebelum proses pembakaran. Tekhnologi pre-combusion harus melibatkan proses seperti gasification. reaktor gasifikasi akan memisahkan karbon dioksida dan bahan bakar lain seprti hydrogen (H2), methane (CH4) ataupun karbon monoksida (CO).Metode lain seperti oxy-fuel dan chemical looping combustion (CLC) masih terus dikembangkan untuk menghasilkan metode yang efektif dan efisien.

Selannjutnya adalah karbon dioksida diangkut untuk dipindahkan pada tempat penyimpanan (storage). Pada tahap ini karbon dioksida bisa memiliki tiga bentuk yaitu padat,cair dan gas,tergantung tujuan dan area yang akan dijadikan tempat penyimpanan karbon diokasida tersebut.

Tetapi yang sangat perlu diingat adalah kerusakan alam yang selama ini terjadi merupakan akibat dari ulah manusia sendiri sehingga secara sadar kitalah yang bertanggung jawab atas bencana ini semua.




Minggu, 20 Desember 2009

Save The Earth


Bumi yang telah berumur 2 milyar tahun belum terlalu tua untuk ukuran suatu planet.Tetapi bumi telah mengalami penuaan dini karena ulah 1 spesies binatang berakal yang terus meghisap tanpa mengenal puas,sudah saatnya spesies ini merawat dan berkreasi soal kebutuhanya tanpa merusak sang ibu tercinta.

Save the Earth ... Mulai dari diri sendiri


Kamis, 10 Desember 2009

Siklus 11 Tahunan???!!!



Jakarta (ANTARA) - Seorang peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan fenomena meningkatnya aktivitas matahari yang menurut ramalan suku Maya terjadi pada 2012 tidak perlu dikhawatirkan apalagi dihubungkan dengan hari kiamat.

Peneliti astronomi dan astrofisik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset Indonesia Dr Thomas Djamaluddin Msc, Rabu, menyatakan tidak ada yang istimewa dari fenomena alam 2012 itu karena hanya siklus 11 tahunan meningkatnya aktivitas matahari.

"Fenomena 2012 yang menghebohkan masyarakat lebih banyak berawal dari ramalan suku Maya, bukan berasal dari alasan ilmiah. Kalau kemudian memang ada fenomena 2012 alasan ilmiahnya apa? Tapi yang lebih banyak diungkapkan justru bukan sainsnya," kata Thomas usai dikukuhkan sebagai profesor riset di kantor Lapan Jakarta.

Menurut Thomas, fenomena aktivitas puncak matahari sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2011, namun titik minimumnya bergeser sehingga diperkirakan terjadi pada 2012. Namun, sekarang pun ada pergeseran lagi sehingga kemungkinan terjadi pada 2013.

Secara alamiah, tegas Thomas, tidak ada yang istimewa karena itu merupakan siklus 11 tahunan. "Terakhir terjadi pada 1989 kemudian pada 2000, dan nanti 2012 atau 2013 akan terjadi lagi."

Orang kemudian mengkhawatirkan terjadi badai matahari, padahal tidak akan ada badai matahari dahyat yang menimbulkan dampak parah.

Badai matahari pada dasarnya adalah fenomena bumi yang sering terjadi bukan saja saat aktivitas matahari mencapai puncak, tetapi saat aktivitas mulai naik hingga turun lagi tetap ada badai matahari.

Artinya memang frekuensi kejadiannya lebih banyak pada saat puncak. Tetapi, menurut Thomas, kekuatan terbesarnya belum tentu pada saat puncak. Sering kali yang paling kuat justru setelah puncak.

"Katakan puncak yang lalu terjadi di 2000, tetapi aktivitas matahari yang paling besar, yang paling kuat justru terjadi pada 2003," katanya.

Perbincangan fenomena aktivitas matahari ini juga berkembang, yang kemudian dikaitkan lagi dengan seolah-olah akan ada tumbukan komet.

"Itu juga secara astronomi tidak ada buktinya. Tidak ada informasi atau perkiraan akan ada komet besar yang menabrak bumi pada 2012. Kemudian ada lagi yang memperkirakan ada planet Nibiru, padahal planet Nibiru tidak dikenal dalam astronomi," jelas Thomas.

Berbagai perbincangan mengenai fenomena 2012, seperti seolah-olah berdasarkan teori astronomi ada asteroit besar yang akan menghantam bumi, sama sekali tidak punya dasar atau tidak ada alasan astronominya.

"Jadi pada dasarnya kekhawatiran 2012 lebih banyak terkait dengan penafsiran ramalan suku Maya, dan oleh ketua suku Maya sendiri sudah menyatakan bahwa 2012 bukan akhir dan itu hanyalah pergantian item kalender yang biasa," kata dia.

Menurut Thomas, dampak dari badai matahari yang ditimbulkan dari percikan partikel matahari dan menimbulkan medan magnit itu selama ini hanya berdampak pada keberadaan satelit di orbit dan terhadap transformer fasilitas jaringan listrik.

Badai matahari dapat menimbulkan induksi ke fasilitas jaringan listrik sehingga terjadi kelebihan beban dan bisa menyebabkan trafo meledak atau terbakar. Sampah Antariksa Dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhannya sebagai profesor riset bersama Dr Ir Chunaeni Latief Msc, Thomas juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang dilalui garis ekuator cukup panjang rentan menjadi tempat jatuhnya sampah antariksa yang sekarang kian banyak.

"Sampah antariksa semakin lama semakin banyak. Yang terpantau oleh sistem jaringan pemantau internasional ada sekitar 13 ribu lebih dan ancamannya bisa mengganggu satelit aktif. Dan salah satunya pernah, sampah antariksa bekas satelit Rusia menabrak satelit aktif karena semakin banyak satelit di antariksa kemungkinan bertabrakan semakin besar," katanya.

Indonesia yang berada di garis ekuator memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena risiko jatuhnya sampah antariksa dibanding kawasan lain. Oleh karena itu Indonesia harus selalu waspada karena berada pada wilayah yang sering dilalui orbit satelit.

Hal itu harus menjadi perhatian Lapan dalam memberikan pelayanan informasi potensi bahaya benda jatuh dari antariksa sehingga kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat dinetraliskan, demikian Thomas Djamaluddin.

Bersama Thomas, peneliti Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc juga dikukuhkan sebagai profesor riset dalam bidang Opto Elektronika dan Aplikasi Laser. Dalam orasinya ia lebih mencermati kandungan dan efek emisi gas rumah kaca (CO2) dan pemanfaatan instumensi Satklim LPN-1A untuk penelitiannya yang bermanfaat bagi dunia penerbangan, dan kajian pemanasan global.



Selasa, 24 November 2009

HIU , ANTARA KEJAM DAN KEPUNAHAN


Apakah ada binatang yang lebih kejam dan mengerikan daripada ikan hiu. Di seluruh dunia, diperkirakan terjadi rata rata 75 serangan ikan hiu terhadap manusia setiap tahunya, dan sekitar 10 da antaranya berakibat fatal.
Serangan semacam itu diberitakan kemana mana, ditambah citra negatif yang di tayangkan di film-film, mengakibatkan hiu dicap sebagai pemangsa terganas.
Tentu saja ikan hiu harus diwaspadai. Namun, jika kita lihat secara objektif, lebih banyak orang yang terbunuh akibat sengatan lebah dan serangn buaya daripada serangan hiu.
Sebaliknya, fakta yang terjadi sekarang banyak ikan hiu sedang diserang oleh manusia. Setiap tahunya, menurut Majalah Premier, 100 juta ekor ikan hiu ditangkap. Sedemikian banyaknya jumlah hiu yang ditangkap, sehingga kalu dideretkan(hidung menyentuh ekor) panjang deretan hiu yang yang telah ditangkap bisa lima kali keliling bola bumi.wow its so amazing . . . . !!!!
Selain itu menurut laporan para peneliti dari Argus Mariner Consulting Scientists, jumlah ikan hiu menyusut dengan pesat karena rendahnya kelahiran alami, lambatnya pertumbuhan dewasa , dan lamanya masa kehamilan. Belum lagi polusi ditempat mebesarkan anak-anak mereka. Begitu tipisnya populasi ikan hiu, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkanya.
Kebanyakan ikan hiu ditangkap untuk diambil siripnya, yang sangat nahal harganya di kawasan Asia, karena dianggap berkhasiat dan mengandung zat yang membangkitkan gairah seksual. Selain itu sup sirip ikan hiu merupakan hidangan mewah dan lezat dengan harga yang menggiurkan 150 dolar AS/mangkuknya.Ya, untuk memenuhi permintaha pasar Asia ini, muncllah prakte-praktek amputasi yang kejam dari para pemburu hiu . merekamemotong sirip ikan hiu hidup lalu melemparkanya kembali ke laut agar ikan mati tenggelam atau kelaparan.
Maka dibutuhkan kepedulian anusia untuk menyelamatkan ika hiu yang menderita. Karena kehadiran ikan ini sangat bearti untuk mempertahankan keseimbangan ekologi laut. Misalnya kabiasaan maka mereka sangat membantu mengendalikan populasi ikan lainya.
Di beberapa Negara sudah di berlakukan peratuaran tentang pelarangan penangkapan hiu. Meksiko, Negara yang dikenal paling banyak melakukan penangkapan, yakni sekitar 30.000 ekor per tahunya baru-baru ini pun sudah memberlakukan larangan pemotongan sirip hiu. Namun, masih banyak Negara-negara lain yang belum memperlakukan hokum ini.
Meski sudah banyak dilakukan langkah-langkah positif, pejabat dari Dana Dunia untuk Alam(WWF), Charlotte Morgensen mengingatkan, ikan hiu tetap dalam bahaya. Dari 300 spesies yang ada, 62 diantaranya telah punah. Dia mendesak agar semua membatasi penangkapan hiu, dan melarang perburuan siripnya. Demi melestarikan habitat ikan ini.
Hem, sekarang mau apa lagi? Kita harus tetap menjaga dan melestarikan hewan ini, meski kejam, tapi tetap, masih ada diantara kita yang lebih kejam dari ikan hiu. Mari bersama satukan tekad untuk menyelamatkan bumi kita tercinta.


Jumat, 13 November 2009

Scientists Discover Connections among the Solar Cycle, the Stratosphere and the Ocean


An international team of scientists, led by the National Center for Atmospheric Research (NCAR) in Boulder, Colorado, used more than a 100 years of weather observations and three powerful computer models to tackle one of the more difficult questions in meteorology. The question was, if the total energy that reaches Earth from the Sun changes by only 0.1 percent during the 11-year solar cycle, how can it drive major changes in weather patterns on Earth?

According to the study, the answer to this question has to do with how the Sun impacts the stratosphere and the tropical Pacific Ocean. These two areas don't seem to be related, but the stratosphere and tropical Pacific Ocean actually work together to create occasional weather patterns that affect much of the Earth.

During solar maximum, chemicals in the stratosphere and sea surface temperatures in the Pacific Ocean react to the Sun in a way that affects how air moves. This can make winds and rainfall more intense, change sea surface temperatures and cloud cover over certain tropical and subtropical regions, and influence weather around the Earth.

These changes keep the eastern Pacific even cooler and drier than usual, producing conditions similar to a La Niña event. The Earth's response to the solar cycle continue over the year or two following peak sunspot activity. The La Niña-like pattern triggered by the solar maximum tends to evolve into a pattern similar to El Niño, as slow-moving currents replace the cool water over the eastern tropical Pacific with warmer water.

The Indian monsoon, Pacific precipitation and sea surface temperatures, and other regional climate patterns are largely driven by rising and sinking air in Earth's tropics and subtropics. The new study could help scientists use solar-cycle predictions to estimate how that circulation, and the regional climate patterns related to it, might change over the next ten or twenty years.


Sabtu, 30 Mei 2009

10 THINGS YOU CAN DO TO HELP TO SAVE OUR EARTH FROM GLOBAL WARMING

1. Drive Smart
A well-tuned car with properly inflated tires burns less gasoline—cutting pollution and saving you money at the pump. If you have two cars, drive the one with better gas mileage whenever possible. Better yet, skip the drive and take public transit, walk, or bicycle when you can.

2.Buy Local n Organic
Did you know the average American meal travels more than 1,500 miles from the farm to your plate? Think of all the energy wasted and pollution added to the atmosphere—not to mention all the pesticides and chemicals used to grow most produce! So go to your local organic farmer to get your fruits and veggies.

3.Support clean, renewable energy.
Renewable energy solutions, such as wind and solar power, can reduce our reliance on coal-burning power plants, the largest source of global warming pollution in the United States. Call your local utility and sign up for renewable energy. If they don't offer it, ask them why not?

Also, support a national renewable electricity standard (RES). The Energy Bill signed in 2007 lacked key components that address our energy security and global warming emissions: a renewable electricity standard of 15 percent by 2020 and a tax package that will provide investment incentives for clean energy alternatives. Use our action center to urge your members of congress to support the renewable electricity standard and tax package!

4.Replace incandescent light bulbs with compact fluorescent bulbs.
Especially those that burn the longest each day. Compact fluorescents produce the same amount of light as normal bulbs, but use about a quarter of the electricity and last ten times as long. Each switch you make helps clean the air today, curb global warming, and save you money on your electricity bill.

5.Saving energy at home is good for the environment and for your wallet.
Start with caulking and weather-stripping on doorways and windows. Then adjust your thermostat and start saving. For each degree you lower your thermostat in the winter, you can cut your energy bills by three percent. Finally, ask your utility company to do a free energy audit of your home to show you how to save even more money.

6.Become a smart water consumer.
Install low-flow showerheads and faucets and you'll use half the water without decreasing performance. Then turn your hot water heater down to 120°F and see hot-water costs go down by as much as 50 percent.

7.Buy energy-efficient electronics and appliances.
Replacing an old refrigerator or an air conditioner with an energy-efficient model will save you money on your electricity bill and cut global warming pollution. Look for the Energy Star label on new appliances or visit their website at www.energystar.gov to find the most energy-efficient products.

8.Plant a Tree, protect a forest.
Protecting forests is a big step on the road to curbing global warming. Trees "breathe in" carbon dioxide, but slash-and-burn farming practices, intensive livestock production, and logging have destroyed 90 percent of the native forests in the United States. And you can take action in your own backyard—planting shade trees around your house will absorb CO2, and slash your summer air-conditioning bills.

9.Reduce! Reuse! Recycle!
Producing new paper, glass, and metal products from recycled materials saves 70 to 90 percent of the energy and pollution, including CO2, that would result if the product came from virgin materials. Recycling a stack of newspapers only four feet high will save a good-sized tree. Please... buy recycled products!

10.Mount a local campaign against global warming.
Educate your community about how it can cut global warming pollution. Support measures at the national, state, and local level that:
Make automobiles go further on a gallon of gas;
Accelerate the use of clean, renewable energy sources, such as solar and wind;
Increase energy efficiency and conservation; and
Preserve forests around the world.


Minggu, 17 Mei 2009

KARIMUNJAWA


Keindahan panorama alam seperti terumbu karang, rumput laut, dan padang lamun dengan biota laut yang beraneka ragam, hutan mangrove, gunung dan sisa hutan tropis dataran rendah, semuanya dalam hamparan yang masih alami sehingga menjadikan kepulauan Karimunjawa sebagai Taman Nasional Laut. Kepulauan ini secara administratif merupakan kecamatan dari wilayah kabupaten Jepara, yang berlokasi sekitar 45 mil arah barat laut kota Jepara. Luas wilayah teritorial Karimunjawa adalah 107.225 ha, sebagian besar berupa lautan (100.105 ha), luas daratannya sendiri adalah 7.120 ha. Daerah ini beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin laut yang bertiup sepanjang hari dengan suhu rata-rata 26 s.d. 30 derajat Celcius, dengan suhu minimum 22 derajat Celcius dan suhu maksimum 34 derajat Celcius.

Kekayaan flora dan fauna Karimunjawa membuatnya menjadi begitu mempesona. Daerah ini memiliki beberapa jenis ekosistem flora, yaitu ekosistem terumbu karang, hutan mangrove (padang lamun), hutan pantai, dan hutan dataran rendah. Di sisi lain, fauna pun bervariasi, seperti rusa dan kera ekor panjang maupun fauna akuatik yang terdiri atas 242 jenis ikan hias dan 133 genera akuatik. Selain itu, di lokasi ini terdapat pula jenis fauna langka yang berhabitat di pulau Burung dan pulau Geleang, seperti burung elang laut dada putih serta dua jenis penyu, yaitu penyu sisik dan penyu hijau.

Kita perlu melestarikan pulau nan indah ini.

Senin, 11 Mei 2009

Save Our Earth


The Save the Earth Foundation functions as a non-profit public benefit corporation dedicated to the expansion of environmental awareness in our society. As an organization committed to raising public environmental consciousness by supporting scientific research and educational programs, we are optimistic that our work will have a very positive impact on the efforts currently under way to solve our earth's problems.

The Save the Earth Foundation embraces overall objectives which include: enhancing the quality of our global environment for the benefit of all people and promoting a better understanding of the effects our society has on the long term health of our planet.

The Save the Earth Foundation's research endeavors center on the selection and funding of environmentally beneficial programs within our institutions of higher education. In order to achieve our objectives we are committed to the continued support of vital research programs including:

Seminars and Workshops to coordinate and concentrate the research potential of associated campuses: Such as those held in 1989 at UC Davis to merge the efforts of all nine University of California campuses and their affiliated national laboratories.

Research focusing on the consequences of global warming through large scale modeling: Like the investigation under way at Duke University in their unique Phytotron Project.

Efforts to evaluate the current state of our planet's atmosphere: Similar to the endeavors of scientists within the Climate Center at Columbia University.

Studies centering on the psychological ramifications of our deteriorating environment: Analogous to the research currently underway at UCLA's Center for the Study of the Environment and Society where their efforts focus on interactions between the environment and social processes.

With the support of people from all walks of life we are confident that the Foundation's efforts will help to reverse the environmental deterioration of our planet. Thank you for your concern with regards to our planet's future.

The Save the Earth Foundation functions as a non-profit public benefit corporation dedicated to the expansion of environmental awareness in our society. As an organization committed to raising public environmental consciousness by supporting scientific research and educational programs, we are optimistic that our work will have a very positive impact on the efforts currently under way to solve our earth's problems.

The Save the Earth Foundation embraces overall objectives which include: enhancing the quality of our global environment for the benefit of all people and promoting a better understanding of the effects our society has on the long term health of our planet.

The Save the Earth Foundation's research endeavors center on the selection and funding of environmentally beneficial programs within our institutions of higher education. In order to achieve our objectives we are committed to the continued support of vital research programs including:

Seminars and Workshops to coordinate and concentrate the research potential of associated campuses: Such as those held in 1989 at UC Davis to merge the efforts of all nine University of California campuses and their affiliated national laboratories.

Research focusing on the consequences of global warming through large scale modeling: Like the investigation under way at Duke University in their unique Phytotron Project.

Efforts to evaluate the current state of our planet's atmosphere: Similar to the endeavors of scientists within the Climate Center at Columbia University.

Studies centering on the psychological ramifications of our deteriorating environment: Analogous to the research currently underway at UCLA's Center for the Study of the Environment and Society where their efforts focus on interactions between the environment and social processes.

With the support of people from all walks of life we are confident that the Foundation's efforts will help to reverse the environmental deterioration of our planet. Thank you for your concern with regards to our planet's future.